Bayi Menunjukkan Rasa Keadilan dan Altruisme sejak Usia 15 Bulan

21 Mar

Sebuah studi terbaru menyajikan bukti pertama bahwa dasar rasa keadilan dan altruisme sudah muncul pada masa bayi. Bayi berusia 15 bulan bisa merasakan perbedaan antara distribusi makanan yang sama maupun yang tidak merata, serta kesadaran mereka tentang jatah yang sama dikaitkan dengan kesediaan mereka untuk berbagi mainan.

“Para bayi mengharapkan distribusi makanan yang sama dan adil, dan mereka terkejut ketika melihat satu bayi diberikan biskuit atau susu yang lebih banyak dari yang lain.”

“Temuan kami menunjukkan bahwa norma-norma keadilan dan altruisme lebih cepat diperoleh dari yang kita duga,” kata Jessica Sommerville, profesor psikologi University of Washington yang memimpin penelitian.

“Hasil ini juga menunjukkan kaitan antara keadilan dan altruisme pada bayi, sehingga bayi yang lebih sensitif terhadap distribusi makanan yang adil juga lebih mungkin untuk berbagi mainan yang mereka sukai,” katanya.

Studi ini mengandung implikasi pada pemeliharaan egalitarianisme dan kerjasama manusia . Jurnal PLoS ONE mempublikasikan temuan ini secara online tertanggal 7 Oktober 2011. Penulis pendamping studi ini adalah Marco Schmidt, seorang mahasiswa doktoral di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi.

Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa anak berusia 2 tahun bisa membantu orang lain – dianggap sebagai ukuran dari altruisme – dan bahwa anak usia sekitar 6 atau 7 menampilkan rasa keadilan. Sommerville, seorang ahli dalam pengembangan anak usia dini, menduga bahwa kualitas ini bisa terlihat pada usia yang lebih muda lagi.

Bayi berusia sekitar 15 bulan mulai menunjukkan perilaku kooperatif, seperti membantu orang lain secara spontan. “Kami menduga bahwa keadilan dan altruisme mungkin juga menjadi jelas kemudian, yang bisa mengindikasikan awal munculnya rasa keadilan,” kata Sommerville.

Selama percobaan berlangsung, seorang bayi berusia 15 bulan duduk di pangkuan orangtuanya dan menyaksikan dua video pendek di mana para peneliti memerankan tugas berbagi. Dalam salah satu video, seorang peneliti memegang semangkuk kerupuk yang didistribusikan di antara dua peneliti lainnya. Mereka melakukan alokasi makanan sebanyak dua kali, sekali dengan penjatahan kerupuk yang sama sedangkan yang lainnya hanya satu penerima yang mendapatkan lebih banyak kerupuk.

Film kedua memiliki plot yang sama, namun peneliti menggunakan teko susu, bukan kerupuk.

Kemudian peneliti mengukur sebagaimana para bayi melihat pendistribusian makanan. Berdasarkan sebuah fenomena yang disebut “pelanggaran ekspetasi”, bayi lebih memberi perhatian ketika mereka terkejut. Demikian pula, para peneliti menemukan bahwa bayi menghabiskan lebih banyak waktu memperhatikan jika satu penerima mendapat makanan lebih banyak dari yang lain.

“Para bayi mengharapkan distribusi makanan yang sama dan adil, dan mereka terkejut ketika melihat satu bayi diberikan biskuit atau susu yang lebih banyak dari yang lain,” kata Sommerville.

Untuk melihat apakah rasa keadilan bayi terkait dengan kesediaan mereka sendiri untuk berbagi, para peneliti melakukan tugas kedua di mana bayi bisa memilih di antara dua mainan: sebuah blok LEGO sederhana atau sebuah boneka LEGO yang lebih rumit. Apapun mainan yang dipilih si bayi, para peneliti melabelkannya sebagai mainan yang disukai bayi.

Kemudian seorang peneliti yang belum pernah dilihat bayi sebelumnya menunjuk mainan dan bertanya, “Bolehkah saya minta satu?” Sebagai tanggapannya, sepertiga bayi berbagi mainan yang mereka sukai dan sepertiga lainnya berbagi mainan yang tidak disukai. Sedangkan sepertiga bayi lainnya tidak berbagi mainan, yang mungkin karena mereka gugup di sekitar orang asing atau yang tidak termotivasi untuk berbagi.

“Hasil percobaan berbagi menunjukkan bahwa di awal hidup terdapat perbedaan individu dalam hal altruisme,” kata Sommerville.

Dengan membandingkan hasil-hasil dari tugas berbagi-mainan dan tugas distribusi makanan, para peneliti menemukan bahwa 92 persen bayi yang berbagi mainan yang mereka sukai – disebut “pembagi altruistik” – menghabiskan lebih banyak waktu melihat distribusi makanan yang tidak merata. Sebaliknya, 86 persen bayi yang berbagi mainan yang kurang disukai, atau disebut “pembagi egois”, lebih terkejut, dan memberi perhatian lebih, ketika ada pembagian makanan yang adil.

“Para pembagi altruistik benar-benar sensitif terhadap pelanggaran keadilan dalam tugas makanan,” kata Sommerville. Sedangkan pembagi egois menunjukkan efek yang hampir berlawanan, katanya.

Apakah ini artinya keadilan dan altruisme adalah karena alam, atau bisakah kualitas-kualitas ini hasil dari lingkungan? Tim peneliti Sommerville menyelidiki pertanyaan ini, melihat bagaimana nilai-nilai orangtua dan keyakinan mengubah pengembangan seorang bayi.

“Kemungkinan bayi mengambil norma-norma ini dengan cara nonverbal, dengan mengamati bagaimana orang memperlakukan satu sama lain,” kata Sommerville.

%d bloggers like this: